Showing posts with label Safety Culture. Show all posts
Mengapa penerapan Manajemen K3 itu penting?
Sebuah Resume
Jurnal Tetang : Health and safety
management in olive oil mills in Spain (Kesehatan dan keselamatan kerja di
pabrik minyak zaitun di Spanyol)
Negara
Spanyol adalah salah satu negara penghasil minyak zaitun. lebih dari 14% dari lahan pertanian
Spanyol dikhususkan untuk kebun zaitun atau, sebaliknya, lebih dari 25% dari
kebun zaitun di dunia.Dari jumlah tersebut, 2.299.322 ha (lebih dari 93% dari perkebunan
zaitun) yang dikhususkan untuk produksi zaitun untuk Almazara (minyak
zaitun pabrik di Spanyol), yaitu untuk produksi minyak zaitun. Di
negara tersebut produksi minyak 2,2 kali lebih tinggi di bandingkan negara
italia (negara peringkat ke dua dalam produksi minyak zaitun). Informasi
terkini yang diperoleh adalah tentang kesehatan dan keselamatan kerja serta
manajerial dari Industri tersebut tidak begitu bagus (kurang).
Pada
jurnal ini telah di bahas beberapa pembahasan yang perlu kita ketahui tetang
kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja di industri miyak zaitun. Terkait dengan
adanya beberapa kejadian yang berkembang bahwa kebijakan manajemen gagal
memenuhi beberapa persyaratan penting memadai, seperti resiko mengenai paparan
kebisingan, dan langkah-langkah darurat, perwakilan buruh yang terpilih hanya
dalam satu dari tiga pabrik minyak zaitun.
Dari
penelitian yang telah di teliti di
idustri minyak zaitun tersebut. Diperoleh beberapa fakta yakni. Adanya pembagian jadwal shift 2 atau 3 diperlukan
ketika adanya musim panen zaitun. Dengan adanya pembagian shift tersebut juga
menambah tenaga kerja. Dengan cara dengan melakukan outsourcing pada pihak
tertentu. Dan di awasi oleh konsultan eksternal namun tidak semua tindakan
pencegahan dilakukan oleh kosultan tersebut seperti halnya persyaratan yang sesuai pada ergonomi,
psychosociology dan medical check-up. Akibatnya, beberapa masalah sering
diabaikan, terutama yang berhubungan dengan ergonomi dan psychosociology.
Kemudian dari segi
sistem manajemen bahwa adanya beberapa laporan yang dibuat hanya sebagai
formalitas saja seperti Laporan Penilaian Resiko dan juga Rencana Aksi
Pencegahan karena hanya setengah dari pabrik zaitun yang
memiliki program tindakan darurat dan hanya seperlima yang dari mereka
yang seperlima dari mereka mengaku memiliki sumber daya pencegahan (safety
monitor) untuk tugas-tugas atau situasi yang melibatkan risiko khusus. dengan hal ini dapat menjelaskan bahwa
mengapa sebagian besar kecelakan terjadi di pabrik zaitun karena tidak adanya
evaluasi resiko sehingga pencegahan-pencegahan bahaya seperti aktivitas fisik
yang berlebihan atau kontak kulit atau mata dengan zat-zat berbahaya, kurang
begitu diperhatikan.
Dan ternyata bukti-bukti menunjukkan bahwa, seperti
dalam sisa sektor produktif di Spanyol, kebanyakan penyakit akibat kerja di
pabrik minyak zaitun tidak pernah diberitahu. Akibatnya, tidak ada data
yang dapat diandalkan atas insiden yang mempengaruhi kesehatan
pekerja. Dalam hal ini, beberapa survei memperkirakan bahwa di Spanyol
hanya 17% dari kasus penyakit akibat kerja akan diberitahu, 99% dari yang
kurang penting. Meskipun dua kasus realistis kematian akibat penyakit
akibat kerja diberitahukan pada tahun 2004, perkiraan menunjukkan bahwa angka
yang sebenarnya 16.100 kasus. Contoh lain menyangkut tidak dilaporkannya kasus brucellosis kerja. Menurut
beberapa peneliti, kemungkinan bahwa sampai 90% dari jumlah sebenarnya dari
kasus yang tidak diberitahu
Dan juga Sebuah studi yang dilakukan oleh “Centre for
Bahaya dan Risiko Manajemen Sekolah Bisnis Loughborough di 24 perusahaan (15
dari mereka memiliki 20 karyawan atau kurang) menarik mengungkapkan bahwa hanya
9 dari mereka menerapkan kesehatan kerja yang memadai dan kebijakan keselamatan
dan hanya 16 telah melaksanakan yang benar penilaian risiko ( Walker
dan Tait, 2004 ). Hasil serupa telah diperoleh
dalam penelitian yang dilakukan pada perusahaan manufaktur ( Rubio-Romero
dan Benavides, 2002 ), di mana sebagiana besar dari mereka untuk penilaian risiko spesifik dan pelatihan
pekerja untuk menghadapi risiko terbukti tidak memadai.
Di lain sisi,
variasi tinggi pada jumlah pekerja selama setahun juga merupakan alasan untuk
dipertimbangkan. Alasan-alasan ini membuat integrasi kebijakan kesehatan
dan keselamatan sulit dalam pabrik minyak zaitun. Kemudian Mereka harus menyediakan alat yang
tepat untuk menganalisis risiko kerja mereka dan merencanakan kegiatan
pencegahan konsekuen. Untuk Mengetahui dampak studi ini pada sektor ini. Karena sampai
sekarang tidak ada data yang spesifik atau studi telah tersedia pada kesehatan
dan standar keselamatan pengelolaan pabrik minyak zaitun.
By: Grisma Fistalika Huda
NRP: 6512040105
Seberapa Pentingkah Sebuah Pertanda?
Ditulis
oleh : Ismi Solikhatun
Mahasiswa
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Jurusan
Teknik Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Tahukah
kalian arti penting sebuah pertanda dari
suatu kejadian itu? Terutama pada sistem perkeretaapian
bawah tanah?
Seperti
kita ketahui, banyak kota kota besar di dunia mempunyai system kereta api bawah
tanah atau subway station yang memberikan altenatif transportasi yang nyaman
dan aman bagi penumpangnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan oleh semakin meningkatnya populasi di dunia
menyebabkan negara-negara besar mulai berlomba-lomba membangun jalur rel kereta api bawah tanah
yang lebih luas. Jika demikian, hal ini pastinya akan mempengaruhi kinerja yang
bersangkutan dengan keselamatan dan
kesehatan kerja. Maka dari itu, diperlukan suatu tindakan pencegahan lebih dini
untuk mencegah terjadinya bahaya yang tidak terduga. Kita bisa mengenali bahaya
jika kita mengetahui apa itu sebuah pertanda kejadian. Pertanda bukanlah suatu objek ataupun benda hidup.
Pertanda adalah suatu kejadian yang mengawali segala sesuatu itu. Pertanda
dalam suatu kejadian dalam hal ini biasa disebut dengan prekursor.
Setiap kecelakaan dan kematian yang terjadi akibat suatu pekerjaan harus
diidentifikasi risiko dan potensi bahaya dari
sebuah prekursor tersebut.

Gambar 1: peta persebaran stasiun kereta api bawah tanah
Dengan
menurunkan frekuensi prekursor, kemungkinan jumlah insiden dan kecelakaan
akibat kereta api dapat dikurangi. Untuk
mengurangi resiko
tersebut maka dibutuhkan sistem keamanan yang bertujuan menangani perilaku,
sikap budaya, teknis, operasional dan metodologikal elemen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Miltos
Kyriakidis, Robin Hirsch dan Arnab Majumdar, mahasiswa Imperial college di London dengan
memberikan kuisioner kepada pihak stasiun kereta api bawah tanah. Terdapat 27
prekursor yang dianalisis selama periode 2002-2009 dan hasilnya jatuh dalam
enam kategori yaitu : kinerja manusia, kegagalan teknik, penumpang, kebakaran,
tindakan berbahaya dan tindakan manajemen. Untuk menilai tingkat keselamatan pada sistem
kereta api bawah tanah dapat
dilakukan dengan memberikan sebuah kuisioner yang menyangkut tentang publikasi
laporan keselamatan, periodisitas dan pemantauan keamanan, prioritas insiden
terkait dengan keselamatan, upaya untuk mengurangi risiko dan menghindari
insiden, deskripsi prosedur keselamatan dan pemantauan risiko yang masih
tertinggal.

Gambar 2 : stasiun kereta api
bawah tanah di New York City, AS
Skor
yang didapatkan merupakan pengumpulan tingkat
keselamatan sistem perkeretaapian bawah
tanah. Berdasarkan skor tersebut maka untuk
meningkatkan sistem keselamatan pada perkeretaapian di setiap prekursor yang
ada dapat dilakukan beberapa hal berikut ini:
1. Memberikan
prosedur operasi, pelatihan dan kontol yang lebih penting daripada perubahan
sikap pegawai.
2. Menerapkan
sistem rekayasa yang baik.
3. Memberikan
fasilitas keamanan atau desain dan manajemen yang baik pada penumpang seperti
layar penunjuk, pintu platform, dan lift tambahan (elevator) sehingga
orang rentan tidak perlu menggunakan
eskalator, diperlukan juga rel panduan di tengah tengah tangga yang lebar agar
pengunjung tidak kebingunan.
4. Membuat
sistem ticketing yang baik untuk mengurangi tindakan ilegalisme dan kecurangan.
5. Memberikan
larangan merokok pada pengunjung atau larangan
membawa bahan yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
Dengan
menerapkan beberapa langkah tersebut di atas, maka anda pasti setuju bahwa dapat
dipastikan risiko kecelakaan akibat sistem perkeretaapian yang salah baik dari
pihak manajemen ataupun pengunjungnya
dapat dikurangi. Sehingga dapat
mengurangi biaya kerugian yang akan dikeluarkan pihak manajemennya. Dan pada
akhirnya sebuah prekursor sangat penting dan wajib kita kenali lebih dini sebelum
kecelakaan itu terjadi.
Referensi:
Kyriakidis
M. dkk, 2011. Metro railway safety: An analysis of
accident precursors. Centre for Transport
Studies, Department of Civil and Environmental Engineering, Imperial College
London, London SW7 2AZ, United Kingdom London. Safety sciene 50
(2012) 1535 - 1548
Pengaruh Iklim Psikologis Terhadap Safety Behaviour
Iklim psikologi sangat erat
hubungannya dengan hasil kerja tiap individu, khususnya bagi keselamatan para
pekerja. Iklim psikologi merupakan kondisi yang penting bagi para pekerja
sehari-hari. Hal ini dikatakan penting karena situasi seperti ini sangat
berpengaruh dengan pekerjaan yang dilakukan.
Berdasarkan kuisioner yang diisi oleh
pekerja bidang industri konstruksi ( pekerja terowongan di bawah bagian tengah
Gothenburg ), menyatakan bahwa pekerja konstruksi kerah biru ( N=189 ). Data
dianalisis dengan menggunakan persamaan strukturaltion modeling ( SEM ). Hasil
penelitian menunjukan bahwa iklim psikologis mempunyai hubungan langsung dan
tidak langsung terhadap perilaku keselamatan, dan motifasi keselamatan dan
pengetahuan keselamatan ditemukan menjadi kunci mediator dalam menjelaskan
hubungan ini.
Tujuan utama dari penelitian ini
adalah untuk memprediksi hasil terkait dengan tingkat keselamatan pekerja dalam
rangka memberikan keselamatan yang berharga. Istilah iklim psikologi mengacu
pada presepsi individual dan lingkungan kerja, hal tersebut menunjukkan
hubungannya dengan hasil kerja. Iklim psikologi mencakup dimensi karakteristik
pekerjaan dan peran, karakteristik kepemimpinan, karakteristik workgroup dan
subsistem, karakteristik organisasi.
Jadi, dapat disimpulkan mengapa iklim
psikologis sangat berpengaruh terhadap safety behaviour hal ini dikarenakan
iklim psikologis menyiratkan bahwa individu dapat melakukan karyanya dalam
lingkungan kerja yang mendukung dimana dia merasa nyaman dengan sesama pekerja
dan berbagai ketrampilan yang telah dilakukan diakui oleh pekerja lain. Sistem manajemen juga mempengaruhi iklim
psikologis pekerja. Jadi perlu diadakan latihan kepemimpinan bagi para pekerja
untuk meningkatkan keselamatan di tempat kerja.
Jadi dari semua bahasan diatas dapat
disimpulkan bahwa iklim psikologis mempengaruhi keselamatan di tempat kerja.
Sintya Pangesti Putri
6512040126
Sintya Pangesti Putri
6512040126
